Blogger Widgets

Selasa, 17 Maret 2015

koma dan titik

Dari sudut jauh, aku melihat titik cahaya membias-lebar hingga membuat mataku terbuka melihat semua yang ada. Namun, ada yang aneh dari apa yang aku lihat. Semuanya putih. Putih tanpa ada benda bertepi gelap dan warna hitam yang menunjukkan perspektif pandang. Tidak ada warna selain putih. Sesaat kemudian, semuanya berjalan seperti tidak asing selama ini.
Pagi itu, ibu membuat ote-ote dibantu adikku, Ninis, yang masih duduk di kelas 2 sekolah dasar. Mereka berdua nampak sibuk. Tangan mereka kotor oleh tepung basah. Memasukkan beberapa potongan sayur seperti wortel, kecambah dan yang lain ke dalam adonan tepung dari wadah itu. Aku rasa hal itu tak lama berselang. Setelah aku melewati kelambu pintu yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah, aku terkejut dengan apa yang ada di ruang tamu. Banyak sekali orang-orang berkumpul di ruang tamu. Ada dari wajah mereka memasang tangis. Aku masih belum paham tangis apa itu. Tapi, kenapa ibu dan adikku, Ninis, membuat ote-ote?
Ada tubuh terselimuti kain batik kecoklatan di atas meja panjang namun kaki meja itu tidak terlalu tinggi. Aku masih bisa berlutut dan menjangkau untuk meletakkan pipi basahku. Aku tidak percaya. Aku tidak yakin orang yang terbujur pucat pasi tanpa nafas itu ialah…
“Tri, jangan lupa bawa ote-ote ibumu ke warung Bu Yat di belakang SD, ya?”, kata Bapak sebelum mengawali kayuhan becak tuanya di suatu pagi.
“Iya, pak.. Siap lah pokok’e. Nanti sekalian aku ngambil uang ote-ote jatah kemarin..”, senyumku menghiasi jawaban untuk bapak tercintaku.
Kayuhan demi kayuhan untuk mengantar aku dan adikku ke sekolah mengawali setiap pagi bapak. Sebenarnya, dari awal aku memilih jalan kaki tanpa harus diantar oleh bapak dengan becak tuanya. Tapi, bapak selalu memaksaku ikut dengan becak tuanya. Alasannya, karena perempatan tempat bapak memarkirkan becak dan menunggu penumpang sangat dekat dengan sekolahku, sejalan pula. Jadi, tiap pagi aku dan adikku, Ninis, selalu diantar oleh bapak dan becak kesayangannya itu. Becak yang juga menjadi sarana pekerjaan-tunggal bapak.
Bapak tidak pernah sekolah. Sekolah Rakyat pada waktu bapak kecil jaraknya berpuluh-puluh kilometer dari rumah, belum lagi harus membayar uang bulanan. Padahal, untuk menjaga dapur agar tetap berasap saja bapak harus mencari uang seorang diri semenjak mbah kakung dan mbah putriku dibawa paksa orang tak dikenal dengan pakaian militer.
Pada suatu hari, adik-mbah kakung mengajaknya tinggal bersama. Bapak kemudian hidup dengan adik-mbah kakungku yang telah lama ditinggal istrinya pergi mencari uang di ibu kota, sementara ia belum meninggalkan anak yang hidup. Tiga kali mengandung, semuanya keluar tanpa nyawa. Ada juga yang masih berupa seonggok janin.
Hingga ajal menjemput adik-mbah kakungku itu, istrinya pun masih tak ada kabar. Entah dimana. Padahal, kiriman wesel tak pernah telat darinya. Begitu pula dengan alamat pengirim wesel itu, tak pernah tetap. Pernah tertulis Semarang di bagian pengirimnya, Bandung, Jakarta. Entahlah. Entah dimana.
Bapak mendapat becak ini juga dari tinggalan adik-mbah kakung. Adik-mbah kakung menyimpan lebihan uang wesel setelah ia gunakan untuk kehidupan dalam sebulan. Dalam setahun ia sudah mampu membeli becak. Becak tergolong kendaraan yang tidak murah di masa itu, di saat bapak berumur 12 tahun. Karena, hanya kendaraan itulah yang digunakan untuk membawa penumpang dari perempatan sebelum Jembatan Merah menuju makam Sunan Ampel.
“Nis, mbak besok mau sekolah di SMPN Tunas Bangsa. Tahu kan? Pernah dengar nama sekolah itu kan, Nis?”, tanyaku mengajak adik membuat harapan indah di pagi itu.
“Pak, setahun lagi Retno tamat SD.. Bisa ndak ya sekolah di SMPN Tunas Bangsa? SMP di samping kantor kecamatan itu lho, pak..”, pertanyaan sama aku tujukan pada bapak yang sedari tadi mengayuh becaknya.
“Bisa, pasti bisa. Kamu pasti bisa jika kamu mau berusaha, Tri..”, jawab bapak dengan bijak.
“Tapi, itu kalau kamu dapat biaya dari pemerintah. Besok, jangan peringkat 2 lagi ya? Harus 1, biar dapat sekolah gratis di SMP yang kamu inginkan itu..”, tambah bapak.
“Iya, pak.. Tri mulai hari ini mau berusaha belajar lebih giat. Pokok’e ranking setunggaaal..”, sorak soraiku tidak lama sebelum bapak menginjak rem becak agar berhenti tepat di samping gapura SD.
Semenjak pagi itu, aku selalu bersemangat untuk sekolah. Bagaimana tidak? Samping kiri jalan, tepatnya belokan sebelum sekolahku terpasang sebuah baliho besar SMPN Tunas Bangsa. Setiap kali berangkat, aku melihat ada asaku di sana. Ada cita-citaku di sana. Ada keinginan yang semakin hari semakin besar setiap melewatinya, pulang dan pergi sekolah.
Namun, semenjak pagi itulah, terakhir kalinya aku berbicara pada Ninis. Aku sudah tidak mungkin bisa berangkat bersama adikku yang pendiam dan penurut itu. Aku tidak akan menemukan keindahan pagi bersama adik tersayangku. Sekarang, aku hanya bisa duduk leluasa, longgar, dan sepi di atas becak yang dikayuh bapak. Bapak cukup tegar. Ia hanya menangis saat benar-benar teringat Ninis. Ya. Ninis dan juga ibu. Ia hanya menangis setiap doa usai sholat. Di setiap hari dan setiap kegiatan yang menjadi kewajibannya, bapak tidak pernah terlihat menangis. Hanya terlihat sorot mata yang tidak sesemangat hari-hari kemarin. Ada sendu yang bisa dibaca dari sembab kelopak mata bapak yang kian hari kian menggelap.
Ibu dan Ninis meninggalkan kami berdua. Kami tidak rela ibu dan Ninis pergi. Pergi selamanya dengan cara sangat tersiksa oleh panas api. Mereka berdua terjebak dalam kebakaran rumah sehari setelah pagi yang menjadi memori tersendiri bersama Ninis dan ote-ote ibu.
Hari itu, Ninis jatuh sakit. Demam panas. Ia tidak berangkat sekolah dan akulah yang menyampaikan surat izin yang dibuat ibu untuk wali kelas Ninis. Ternyata, Tuhan telah mengatur semua. Ya. Dengan aturan Tuhan seperti ini cukup membuat aku agak merasa tak menentu antara marah, tanya, tak terima, entahlah. Bagaimana bisa? Aku tidak hanya kehilangan ibu, tapi juga Ninis, adikku, dalam satu waktu dan satu kobaran api.
Cukup.. Cukup.. Aku sebenarnya tak kuasa kembali menulis dan menuangkan panjang lebar ingatanku tentang ibu dan Ninis pada cerita ini. Aku tak tega jika harus mengingat betapa panas api memaksa mereka berdua melepas ajal. Aku dan bapak tidak tahu apa yang menjadi penyebab rumah kami yang hampir semua dari bambu lapuk itu terbakar. Yang jelas hanya ada satu kemungkinan rumah kami bisa terbakar: kompor.
Kompor gas subsidi ibu satu-satunya penyebab rumah kami terbakar. Mungkin, tabung gas kompor ibu bocor, meledak, atau entahlah. Yang jelas, ibu dan Ninis sudah pergi. Pergi selamanya. Aku tak tega, sungguh tak tega melihat hitam legam kulit di badan ibu. Apalagi Ninis yang sebagian kulitnya terpisah, melekat pada tiang yang juga menjatuhinya saat api melalap rumah.
Ada tubuh terselimuti kain batik kecoklatan di atas meja panjang namun kaki meja itu tidak terlalu tinggi. Aku masih bisa menjangkau untuk meletakkan pipi basahku. Aku tidak percaya. Aku tidak yakin orang yang terbujur pucat pasi tanpa nafas itu ialah…
“Tin.tiiiin.. Sreeeeiiiitttt… Brak!”
Suara klakson dari belakang dan benturan keras itu yang aku ingat sebelum semuanya menjadi gelap. Aku tak ingat ada bapak yang juga bersamaku. Ia di belakang mengayuh becaknya. Ah, iya. Bapak di belakang mengayuh becaknya. Lantas, dimana bapak? Dimana aku sekarang?
Gelap. Aku tak tahu mataku terpejam ataukah membuka. Yang jelas, semua nampak hitam. Tidak ada yang aku rasa kecuali serasa memar di kepalaku bagian belakang. Gelap. Aku berusaha membuka kelopak mataku. Gelap. Bagaimana ini? Aku yakin mataku sudah terbuka lebar tapi kenapa yang ada hanya gelap?
Dari sudut jauh, aku melihat titik cahaya membias-lebar hingga membuat mataku terbuka melihat semua yang ada. Namun, ada yang aneh dari apa yang aku lihat. Semuanya putih. Putih tanpa ada benda bertepi gelap dan warna hitam yang menunjukkan perspektif pandang. Tidak ada warna selain putih. Sesaat kemudian, semuanya berjalan seperti tidak asing selama ini.
Pagi itu, ibu membuat ote-ote dibantu adikku, Ninis, yang masih duduk di kelas 2 sekolah dasar. Mereka berdua nampak sibuk. Tangan mereka kotor oleh tepung basah. Memasukkan beberapa potongan sayur seperti wortel, kecambah dan yang lain ke dalam adonan tepung dari wadah itu. Aku rasa hal itu tak lama berselang. Setelah aku melewati kelambu pintu yang membatasi ruang tamu dan ruang tengah, aku terkejut dengan apa yang ada di ruang tamu. Banyak sekali orang-orang berkumpul di ruang tamu. Ada dari wajah mereka memasang tangis. Aku masih belum paham tangis apa itu. Tapi, kenapa ibu dan adikku, Ninis, membuat ote-ote?
Ada tubuh terselimuti kain batik kecoklatan di atas meja panjang namun kaki meja itu tidak terlalu tinggi. Aku masih bisa berlutut dan menjangkau untuk meletakkan pipi basahku. Aku tidak percaya. Aku tidak yakin orang yang terbujur pucat pasi tanpa nafas itu ialah bapak.
“Bapaaaaaak..”, teriakku sekencang mungkin.
Badanku lemas. Lemas tak kuasa membendung air mata.
“Bapaak,”
Ada yang aneh. Orang di sekelilingku mengacuhkanku. Mereka mengacuhkan teriakan dan tangisku sedari tadi. Mereka sibuk dalam sedih dan nuansa duka mereka sendiri. Tak ada yang mendekatiku, membujuk tangisku agar terdiam. Apa mereka menganggap tangis dan teriak seorang anak yang bapaknya meninggal ialah hal wajar?
Aku masih mencoba mencari jawaban. Melihat sekeliling. Tiba-tiba ada keributan membelah kerumunan orang-orang yang sedari tadi berkumpul. Aku menemukan sekelompok ibu-ibu sedang membantu perawat memindahkan satu tubuh tertutupi kain batik coklat yang terlihat basah dari depan rumah. Nampak ada mobil ambulan berhenti di depan rumah. Kemudian, mereka membaringkannya di atas meja panjang tepat di samping jasad bapak. Aku tak asing dengan wajah itu. Ternyata, itu wajahku.

ayah

“Engkaulah nafasku…
Yang menjaga di dalam hidupku,
Kau ajakan aku menjadi yang tebaik.”
Pagi itu pagi yang cerah, Raka terbangun dari tidurnya, menghirup segarnya udara pagi itu. Setelah sholat, ia sempatkan untuk belajar dan membantu pamannya. Namun, kali ini berbeda, karena mulai pagi hingga pukul setengah tujuh belum juga Raka menemukan pamannya.
Namanya Raka Prasetya, usianya katakanlah empat belas tahun. Dia duduk di kelas 3 SMP. Dia tinggal bersama pamannya, namanya paman Adi. Paman Adi hidup dengan satu matanya. Satu matanya yang lain, tidak tau kenapa bisa tidak ada. Paman tidak pernah bercerita kepada Raka.
Walau hidup dengan satu mata dan kemiskinan, namun paman Adi begitu sayang kepada Raka, seperti layaknya seorang ayah kepada anaknya sendiri. Dia memberikan segala apapun yang ia bisa untuk Raka.
“Paman…” Pintanya setelah selesai beres-beres. Hari ini hari Ahad, jadi sekolah libur. Dinyalakan televisinya lalu ia tak sengaja melihat acara hari ayah.
“Iya Nak.” Jawab Paman Adi setengah berlari menuju tempat keponakan tercinta.
“Lihat paman, katanya hari ini hari ayah, dimana ayah paman?” ucapnya. Paman Adi hanya terdiam saja. Tak menjawab satu kata pun.
Raka tak pernah malu untuk mengakui pamannya, karena ia rasa pamannya orang yang baik. Namun Raka selalu heran, setiap Raka menanyakan ayahnya, tak sekata pun ia menemukan jawabannya.
“Kau tak pernah lelah
Sebagai penopang dalam hidupku..
Kau berikan aku semua yang terindah…”
Siang itu, sepulang sekolah, Raka melihat berita kriminalisasi di televisi. Dia melihat buronan 15 tahun yang lalu hingga sekarang yang bernama prayoga pratama namun ada kejanggalan dalam hati Raka. Wajahnya mirip dengan wajah pamannya 15 tahun yang lalu dengan kedua matanya. Dicarinya pamannya namun tak ada orang di rumah.
“Raka, lihat ini” ucap Pak Samsul, tetangganya yang memberikan sebuah surat undangan kecil. Undangan dari polisi.
“Apa? Jadi selama ini…?” Raka tertegun setelah membaca surat dari polisi.
“Pamanmu adalah prayoga pratama, dia sebenarnya adalah ayahmu, ayah kandungmu. Yang telah menjadi buronan polisi, 15 tahun lalu.” Jelas pak samsul.
Raka terpaku dengan cerita dari pak samsul, dia diam mematung. Benar saja, setiap ia tanyakan mengenai ayahnya, tak pernah sedikitpun paman bercerita. Lalu tujuannya apa pura-pura menjadi pamanku?” pikirnya.
“ternyata ayahmu adalah pamanmu yang menjadi buronan polisi ya!” ucap salah satu temannya ketika di sekolah.
“sudah menjadi buronan, hanya punya mata satu lagi…!” ledek yang lainnya.
Raka hanya diam tak mampu menjawab. Selama ini paman yang sangat disayanginya ternyata adalah ayahnya, orang yang menjadi mimpinya. Dalam hati Raka malu dan kecewa. Kenapa ia memiliki ayah buronan dan bermata satu? Lantas kenapa ayahnya harus mengaku sebagai pamannya? Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya timbul rasa benci terhadap paman adi, alias prayoga pratama, ayahnya. Ia bertekad ingin melupakan semuanya dan hidup dengan kehidupan yang baru.
10 tahun sudah dilalui Raka tanpa bayang-bayang Paman Adi, maupun Prayoga Pratama. Ia pindah dari desa ke kota untuk bekerja. Ia telah sukses menjadi manager di perusahaan tekstil di Indonesia. Tiba-tiba di jalan, ia tak sngaja bertemu dengan sesosok bermata satu, yang sangat dikenalinya. Paman Adi! Benar! Itu Paman Adi. Dalam hati ia tak rela, mengapa ia harus bertemu lagi dengan orang itu. Tiba-tiba ia ingin lari, namun terus dikejar. Tak sadar ia melihat bahwa Paman Adi telah kecelakaan ketika menyebrang jalan untuk mengejar Raka. Entah apa yang ingin diucapkan, namun terlanjur Paman Adi telah meninggal dalam kecelakaan itu. Diam-diam Raka bersyukur orang yang dianggap jahat itu telah meninggal dan benar-benar hilang dari hidupnya.
Suatu hari, ada reuni sekolah di SMP Raka. Mau tak mau ia harus datang. Ia bingung, dalam reuni diharuskan membawa seorang ayah. Tapi ayahnya telah meninggal karena kecelakaan tempo waktu lalu.
Kemudian, ia sempatkan untuk mengunjungi gubuk tua yang ia anggap “rumah” itu, dahulu bersama pamannya. Dilihatnya sepucuk surat di kamar Raka. Diambilnya surat itu, lalu dibacanya.
Teruntuk: Raka tersayang
Raka, anakku. Ayah tahu kamu pasti marah dengan ayah, Raka pasti benci dengan ayah. Karena ayah telah berbohong padamu.
Raka, perlu kamu tahu, 10 tahun silam, ketika berziaroh ke makam ibumu, mobil ayah tiba-tiba remnya blong dan menyebabkan mobil ayah menabrak truk hingga menyebabkan kecelakaan dahsyat.
Beruntung kita masih selamat. Namun, kaca pada mobil menyebabkan kebutaan pada salah satu matamu. Karena kejadian itulah ayah ditangkap dan menjadi buronan dengan tuduhan merusak masa depan anak. Ayah tahu itu bukan salah ayah. Dan kamu tahu sebagai seorang ayah, ayah tak tega melihatmu dewasa dengan satu mata. Oleh sebab itulah ayah donorkan mata ayah untukmu. Ayah senang, meskipun dengan satu mata, ayah dapat mengurusmu meskipun dengan bayang-bayang polisi.
Sebenarnya, 10 tahun harusnya ayah dipenjara, namun ayah memohon kepada polisi dengan nyawa ayah sebagai jaminannya, untuk memberi ayah waktu sebentar untuk merawatmu. Polisi mengizinkan tapi hanya 5 tahun. Saat itu kamu masih berusia 4 tahun Nak. Untuk menutupi identitas ayah, ayah berubah menjadi Paman Adi, paman kamu. Supaya kamu tidak malu punya ayah seperti ayahmu ini.
Bertahun-tahun ayahmu merawatmu sebagai Paman Adi. Ayah senang kamu bisa hidup sebagai manusia normal dengan dua mata, meskipun ayah harus hidup dengan satu mata. Tapi ayah tetap senang. Walau ayah mati, ayah akan tetap bersamamu.
Raka, pada akhirnya ayah memang harus menyerahkan diri pada polisi, karena memang ayah sudah menjadi buronan 10 tahun lalu.
Raka, ayah menyayangimu. Ayah akan selalu bersamamu, walau ayah telah meninggalkanmu.
Tertanda,
Prayoga Pratama, ayahmu
(Paman Adi).
Raka tertegun melihat surat itu. Tak sengaja ia meneteskan air matanya. Raka menangis
tersedu adalah-sedu teryata paman Adi orang yang hidup dengannya selama 10 tahun ini adalah ayahnya, orang yang dibencinya karena menjadi buronan polisi.
“Ayah!!!…” Teriaknya
Raka berlari menuju SMPnya, untuk reuni. Kini giliranya untuk mengeluarkan isi hatinya, terutama untuk ayah tercinta.
“Ayahku bernama Prayoga Pratama. Orang yang kalian anggap buronan polisi. Ayahku memang buronan, ayahku memang bermata satu. Namun dia adalah seorang kesatria yang mau mengorbankan dirinya demi anaknya. Ayahku selalu memberi apapun demi kebahagiaanku, meskipun itu dalam sesosok paman Adi”.
“Memang ayahku buronan polisi, memang hidup dengan mata satu. Tapi ayahku pahlawan Teruslah kalian berkata ayahku buronan dan bermata satu. Tapi yang harus diingat, ayahku adalah orang yang terbaik dalam hidup, yang selalu mencurahkan kasih sayang di sisa-sisa hidupnya.
“Ayahku adalah pahlawan, penyelamat dalam hidupku. Ayah, aku sayang ayah. Maafkan aku ayah”
Sekali lagi Raka menitikan airmatanya. Tak ada kebencian lagi di hatinya, melainkan kerinduannya pada sesosok yang disayang. Yaitu, ayahnya.
“Aku hanya memanggilmu, ayah
Jika aku kehilangan arah
Aku hanya mengingatmu, ayah
Disaat ku telah jauh darimu”
Dalam sepiku,
Aku merindukan kehadiranmu.
Dalam suyiku,
Aku merindukan kasih sayangmu.
Dalam tawaku,
Aku merindukan senyummu.
Dalam dukaku,
Aku merindukan semangatmu.
Ayah…
Dimana kau?
Rinduku padamu.
Aku ingin kau kembali.
Aku ingin kau hadir
Dalam hidupku..
Menemani setiap hariku,
Merasuk kedalam jantungku,
Terbayang didalam hayalku,
Dan tersenyum, bersamamu,
Dalam mimpi-mimpiku…

rindu seorang sahabat

Aku Adinda, aku punya sahabat yang namanya Ami. Aku dan Ami bersahabat sudah sejak kelas 4 SD, tapi semenjak kelas 1 SMP aku dan dia semakin jauh. Kami jauh karena saat kelas 1 SMP kami sudah tidak sekelas lagi.
Masih ingat dulu, saat aku dan dia bertengkar saat SD, kebiasaan kami kalau lagi bertengkar itu nggak pernah ngomong tapi kami selalu surat-suratan. Tapi sejak SMP aku merasa semakin jauh dengannya, dia lebih dekat dengan teman-teman barunya.
Aku rindu kamu Ami, rindu banget.. Kapan kita bisa kayak SD dulu lagi? Kelas 2 SMP kamu malah pindah ke Madura, kota kelahiranmu.. Dan semenjak itu kita nggak pernah ketemu lagi.
Di facebook aku inbox kamu “ami” dan kamu membalas “dalem” tanpa lama aku pun membalas “ami, aku kangen loh.. kapan kamu pulang ke sini?” dan lama sekali aku menunggu balasnya, kemudian dia pun membalas “enggak tau sayang”. “kok nggak tau?” balasku.. dia pun membalas “iya enggak tau dinda sayang.” dan aku pun membalas “sms aku dong mi..”. “aku nggak punya nomermu sayang”. “ini loh nomerku 085730xxxxxx” balasku memberikan nomer hp ku. Lama aku menunggu balasnya, ternyata dia tidak membalas. Fikirku “mungkin dia enggak bales, soalnya dia mau sms aku”. Aku pun menunggu sms darinya, ternyata dia enggak sms aku. kecewa banget.
Pas aku online di fb lagi, aku kirim inbox lagi ke dia “mi kok nggak sms aku?” dia pun membalas “sorry lupa sayang”. Baca inboxnya itu aku pun langsung nangis, semudah itu dia lupa. Jangan-jangan dia lupa kalau dia dan aku pernah bersahabat?
Sejak itu aku sering melamun, menangis dan menyendiri.. Betapa rindunya aku dengan sahabat ku ini, tapi apa dia juga rindu aku?
Kini aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Tanpa dia rasanya hampa banget, soalnya dia teman yang paling setia sama aku. Padahal dulu pas SD aku sering dibully. dia rela dimusuhin oleh teman-temannya demi ngebelain aku. Kangen banget aku.
Enggak pernah sekalipun dia ngirim inbox ke aku, selalu aku dulu yang nginbox. Aku tuh cuma pengen kamu tau, aku sayang sama kamu, aku kangen sama kamu AMI.. I MISS YOU MY BEST FRIEND.

midnight in jakarta

Bruk! Akhirnya berhasil juga aku menapakki Ibu Kota setelah 3 jam berada di Bus dari Ciwidey, Bandung. Menempuh perjalanan bus malam membuatku merasa sedikit lelah. Tapi setibanya di Jakarta, lelah ini bisa terobati. Jakarta adalah kota impianku. Cita-cita melawat ke kota ini sudah lama kupendam dalam mimpi, namun aku selalu berusaha sabar dan menanti. Dan akhirnya, setelah berdiam di Bandung selama 18 tahun, kejadian juga mimpiku menginjakkan kaki di sini.
Alhamdulillah…
Aku tersenyum menatap indahnya pagi di Jakarta, mensyukuri nikmat Tuhan yang diberikan kepadaku. Deru mesin bus berkolaborasi dengan sorak sorai para kondektur bus, udara panas yang menyengat walau pagi masih menjemu, bunyi klakson kendaraan mengalun bak paduan suara, serta antrian kendaraan yang melaut di jalan raya dengan pemandangan gedung-gedung tinggi, semua menambah kekhasan Jakarta yang selama ini kulihat di layar kaca.
Jakarta. Mungkin wajahmu tampak sangar, namun bagiku kau adalah sosok yang unik. Aku jarang menemukan ini di Ciwidey. Setiap hari aku disuguhkan dengan pemandangan hijau pepohonan dan hamparan kebun-kebun teh berudara sejuk. Namun kini, aku telah menemukan sensasi yang baru!
Sekarang diriku berada di sebuah terminal bus. Menurut orang-orang yang ada di sana, terminal di mana aku turun dari Bus ini adalah Terminal Kampung Rambutan. Ah, entahlah. Apa pun namanya, yang penting judulnya ‘Jakarta’.
Tapi, kalau dipikir-pikir, aku mau ke mana? Dan, mau tinggal di mana? Di rumah siapa? Setidaknya untuk malam ini saja, lah. Namun masih ada esok hari, mungkin aku bisa mencari tempat lain. Sampai aku dapat pekerjaan nanti, baru aku bisa mencari kos-kosan atau kontrakan.
Ah, aku baru ingat! Waktu di Bandung, aku punya teman SMA bernama Rusli. Setelah lulus, ia berencana untuk kuliah di Jakarta mengambil sarjana hukum di salah satu universitas ternama. Dan kini, nasib kami sama, sama-sama sudah lulus, namun berbeda jalan. Mungkin Rusli sedang menjalankan kuliahnya untuk meraih gelar Sarjana Hukum, sementara aku, aku hanya bekerja sebagai tengkulak daun teh yang selanjutnya dibawa ke pasar tradisional.
Sudahlah, aku tak mau merundungi cerita hitam yang terjadi dalam hidupku. Lebih baik aku hubungi Rusli, sekarang. Langsung saja, kupijat tombol-tombol nomor yang tertera di ponsel tuaku. Lantas, kutekan tombol bertanda telepon.
Tuuut… tuuut… tuuut…
“Assalamualaikum.” Nah, akhirnya Rusli mengangkat teleponku juga. “Maaf, dengan siapa saya berbicara?”
“Waalaikumsalam, Li!” Seruku dengan kobaran semangat. “Li kamu teh sekarang di Jakarta, nya? Ini teh saya, Iqbal, teman kamu dulu waktu di Ciwidey. Saya teh sekarang lagi di Jakarta. Udah lah, ceritanya mah nanti saja atuh, ayeunna teh saya mau nanya sama kamu. Kamu tinggal di mana?”
Awalnya pertanyaanku tak langsung digubris. Namun setelah beberapa saat, barulah Rusli menjawab, “Oh, Iqbal? Begini saja, Bal. Kamu tunggu saya di Cafe de Paris di bilangan Slipi. Nanti saya susul ke sana, ya?”
Cafe de Paris? Namanya terdengar asing bagiku. Aku kan sama sekali tidak kenal daerah Jakarta. Ah, sebaiknya aku sanggah saja perintah Rusli ini, “Rusli, punteun-punteun wae, nya. Ari Café de Paris teh, naon? Saya teh tidak kenal. Lagipula, kenapa tidak ke rumah kamu saja, atuh?”
“Bal, kalau kamu mau bertemu saya, kamu jangan banyak protes. Kamu turuti aja apa kata saya. Permisi.” Teleponnya mendadak ditutup. Lho, kenapa Rusli jadi berani begini padaku? Padahal, dulu untuk mengungkapkan rasa kecewanya padaku saja seakan ia berada dalam lautan dosa. Tapi aku tak begitu mempersoalkan hal ini. Lebih baik aku cari tahu di mana Café de Paris itu.
“Punteun, Pak. Ari Bapak teh tau di mana Café de Paris?” Tanyaku pada seorang pria berkumis tebal berdasi yang baru saja turun dari mobil hitam mewah berpintu otomatis, dan kalau tak salah lihat, plat nomor mobilnya B 15 MA.
Pria itu menjawab, “Cafe de Paris ada di daerah Slipi. Kalau dari sini, kamu bisa naik Taksi, atau Bajaj, atau kalau mau yang lebih ekonomis, kamu bisa naik Kopaja.”
Aduh, itu sih sama aja buatku memutar pertanyaan kembali. Maksud pertanyaanku, ke mana arahnya? “Pak, memangnya, kalau naik Taksi teh berapa kitu ongkosna?”
“Kalau tidak masalah sekitar 50 ribuan. Kalau macet mungkin akan lebih mahal.” Katanya sambil tersenyum. Aku terdiam sejenak, wajahku berubah melas, mengingat tarif ongkos yang tak bersahabat.
Tapi nampaknya waktu tak mau membuatku susah. Pria ini memandangku prihatin. “Kalau kamu tak keberatan, kamu bisa ikut mobil saya. Kebetulan, saya mau ke sana juga.”
Apa? Aku diajak ke sana dengan mobil mewahnya? Ya ampun… Mimpi apa aku semalam? Dibalik hati kecilku tersimpan hamparan kebun bunga yang mekar mendadak bersamaan rasa girang dan bahagia. Hfff… lega juga akhirnya…
“Ah, tidak keberatan atuh, Bapak. Nuhun pisan.”
Pintu mobil tertutup dengan sendirinya saat kami tengah berada di dalam mobil. Jujur, aku takjub melihat pemandangan ini. Di Ciwidey tidak ada mobil secanggih ini. Secanggih-canggihnya mobil, pintunya tidak ada yang otomatis, itu pun harus ditutup secara paksa. Lalu mataku berputar ke penjuru ruang mobil, interiornya luar biasa, pakai gorden segala lagi.
Demi meredam kebisuan di antara kami, aku memulai perbincangan dengan sekelumit pertanyaan-pertanyaan, “Pak, kalau boleh saya tebak, nama Bapak teh Bisma, nya?”
“Benar, dari mana kamu tahu nama saya?” Herannya,
“Pan saya teh ngeliat plat mobil Bapak, B 15 MA.” Jawabku dengan senyum candaan. Kusambung pertanyaan lagi, “Pak, kalau saya boleh tau, Bapak teh kerja di mana?”
Pria ini tersenyum untuk yang kesekian kalinya. “Saya bekerja di Café de Paris sebagai manager.”
Hah, manager? Wah, wah, wah… Aku memang orang yang sangat beruntung saat ini. Tak perlu ke sana ke mari mencari alamat, langsung bertemu dengan manager-nya. “Wah, hebat, euy! Rupanya Bapak teh manager, nya? Alhamdulillah, atuh, Pak…”
“Ya, saya sudah bekerja lama di sana. Nama kamu siapa? Dan kamu sendiri, asalnya dari mana?”
“Nama saya Iqbal. Saya teh dari Ciwidey, kampung saya. Saya ke sini niatnya mau membantu abah dan ambu saya dalam himpitan ekonomi, kitu Pak. Biasa lah, jalma-jalma nu daratang ka Jakarta teh pan ingin melamar kerja. Kalau tujuan saya ke Cafe Bapak teh ingin menunggu teman saya.”
Selang beberapa saat, akhirnya kami tiba di sebuah bangunan dengan artistik modern kotemporer yang didesain minimalis dan mewah, namanya Cafe de Paris. “Mari silakan masuk.” Pak Bisma mempersilakan aku masuk ke dalam. Begitu masuk, sorot mataku langsung menjurus ke segala ufuk ruangan. Benar-benar luar biasa, Cafe ini bernuansa Jazz kental, dinding-dindingnya dipenuhi lukisan fresco bergaya klasik, lampu-lampu penerangan hanya menyala ala kadarnya namun berkesan elegant, meja bar yang dinamis, serta suguhan musik Jazz yang langsung ditampilkan dari panggung kecil, semakin menambah kekagumanku pada Cafe ini.
“Iqbal, kamu tunggu saja di sini. Saya mau ke dalam dulu.” Pak Bisma menarik kursi dan mempesilakan aku duduk di tempat.
Tak lama kemudian, ponselku berdering. Muncul nama Lilis pada layar ponselku yang berwarna hitam putih. Dia adalah calon istriku yang dijodohkan orangtua kami sejak kecil. “Assalamualaikum, Lis?”
“Waalaikumsalam. Aa Iqbal, Aa teh sudah sampai di Jakarta? Lilis teh meni kangen sama Aa. Kapan atuh kita bisa menikah di sana, Aa?” Ujarnya bersemangat.
“Lis, Aa teh baru saja sampai di Jakarta. Aa teh mau nemuin si Rusli dulu. Nanti kalau Aa sudah punya pekerjaan dan uang yang banyak, pasti Aa teh ajak Lilis, Ambu, dan Abah ka Jakarta. Kita menikah di sini, ya Lis?”
Mendengar kalimatku barusan, Lilis sepertinya lega. Memang sejak SMA, Lilis bercita-cita ingin menikah denganku di Jakarta. Ia terobsesi ingin menjadi orang kota dan mendapat pamor di mata orang-orang kampung. “Ya sudah atuh. Aa, dalam waktu dekat ini, Lilis teh mau nyusul Aa ka Jakarta. Tapi sekarang Lilis teh pamit dulu. Punteun kalau sudah mengganggu Aa. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Tak lama setelah itu, kulihat sesosok pria tengah menggandeng seorang wanita dengan mesra. Pria itu tampak berwibawa dan tampan. Aku tak asing dengan wajahnya. Benar, dia adalah Rusli, sahabat seperjuanganku ketika masa SMA. Sekarang ia berubah menjadi seorang intelek dan cerdas, terbukti dengan penampilannya yang kharismatik. Tapi wanita itu…
“Rusli!” Aku menyerunya.
Rusli menoleh sejenak padaku, kemudian melepas genggaman tangan wanita di sebelahnya, telapak tangannya menengadah, seolah meminta sesuatu, dan wanita itu memberikan sejumlah uang bernilai ratusan ribu rupiah pada Rusli. Lantas mereka melambaikan tangan dan Rusli melangkah ke arahku.
“Bal, kamu sudah lama menunggu?”
“Ah, nggak. Saya teh baru sampai di sini, Li.” Kataku seraya memandangi penampilannya dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Ck… ck… ck… hebat euy kamu teh sekarang! Dandannya meni kayak pejabat kieu.” Aku memujinya.
Rusli hanya balas dengan senyuman sinis. “Bal, kamu terus terang aja sama saya. Kedatangan kamu ke Jakarta untuk apa?”
“Saya ke sini teh mau mengadu nasib, Li. Saya tidak mau jadi tengkulak terus. Lagian Ambu sama Abah juga sudah tua, karunya atuh, Li.” Jelasku.
“Ya sudah, untuk sementara waktu kamu tinggal dulu di rumah saya. Kalau kamu punya penghasilan nanti, kamu bisa cari kos-kosan di luar sana. Bagaimana?”
Rusli memang betul-betul sahabat terbaik untukku. Dia rela menampungku di rumahnya. “Wah, nuhun pisan atuh, Li. Saya teh tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikan kamu.” Rusli hanya membalas senyuman datar.
Malam menjelang, senja memanggil hembusan angin yang berganti kelam, lembayung sutera menggores guratan tajam di langit biru, sang raja siang mulai mengantuk dan terbuai oleh malam. Aku membayangkan jika terjadi malam di Jakarta, sensasi apa yang kurasakan?
Ketukan sepatu menghampiriku seketika, membangunkanku dari lamunan di balkon atas. “Bal, malam ini saya ada urusan di Café de Paris, sebaiknya kamu ikut karena ini menyangkut kamu juga.”
Rupanya Rusli mengajakku ke Café itu lagi. Aku tak akan menolak kesempatan baik ini, “Ya sudah atuh lah. Yuk!”
Setibanya di Café, Rusli mengajakku ke dalam.
“Bal, kamu tunggu di sini dulu. Saya mau ke dalam.” Rusli meninggalkanku di antara banyak orang yang berkumpul di sana. Mereka memandangku tak biasa, mungkin karena penampilanku yang sangat sederhana. Aku mulai merasa resah dan ingin keluar dari petaka kecil ini. Ah, untung ada ruangan di sana!
Kuambil ancang-ancang, lalu kutancap kecepatan ini dan… lari sekencang-kencangnya! Sayangnya, aku gagal mengontrol kecepatan laju ini, akibatnya aku menabrak seorang wanita di depanku. Kebetulan ia tengah menggenggam segelas minuman berwarna kuning terang. Dengan sekejap, dress putihnya berubah kuning penuh noda.
“Duuuh… lo gimana, sih? Eh, lo punya mata kan? Pake dong mata lo kalau jalan, jangan pake dengkul!” Wanita itu meluapkan amarahnya dengan bentakan menyeramkan.
Aku sempat menunduk, lalu menatap wanita bersepatu hak tinggi ini dengan sedikit mendongak. “Eleuh, eleuh… geulis pisan si Eneng. Seperti bidadari yang jatuh dari surga…” Aku sungguh terperangah saat melihat wajahnya, sungguh cantik dan anggun. Ia laksana bidadari yang jatuh dari surga. Hatiku jatuh dalam pandangan pertama.
“Eh, lo ngapain liat-liat gue?” Plak! Wajahku mendadak disentuh dengan tamparan kasar namun manis rasanya. Ini baru pertama kalinya aku jatuh cinta dalam buaian sejati, tidak seperti kisahku dengan Lilis yang bercinta karena tuntutan orangtua kami. Kali ini tidak, cinta datang sendiri kepadaku lewat wanita ini. Ia adalah ratu penguasa isi hatiku. Aku terbelenggu dalam setiap amarah, bentakan, dan cercaan yang keluar dari bibir manisnya. Semakin emosinya menjadi, maka aku akan semakin merasakan hebatnya getaran cinta.
“Ehm…” Tiba-tiba deheman Rusli membuat suasana menjadi buyar. “Sandra, kamu kenal dengan dia?” Loh, Rusli juga kenal dengan wanita ini?
Jadi wanita ini bernama Sandra? Rupanya setelah Rusli menjelaskan, Sandra adalah wanita yang ia gandeng tadi siang. Awalnya memang aku tidak melihat terlalu jelas saat Sandra bersama Rusli siang tadi. Tapi sekarang wajahnya sudah jelas terlihat olehku.
Rusli angkat bicara, “Sandra, ini temanku dari kampung. Namanya Iqbal. Kedatangan dia ke Jakarta untuk mencari pekerjaan.” Rusli memperkenalkan sekaligus meleraiku dengan Sandra, ia lebih mengawasiku saat berdekatan dengan Sandra. Sepertinya Rusli sudah melihat kejadian beberapa menit lalu dan ia tampak tidak suka kalau aku memberi perhatian pada Sandra.
“Saya adalah papanya Sandra, Iqbal. Rusli adalah calon menantu saya.” Pak Bisma tiba-tiba hadir di sela-sela kami. Ternyata Pak Bisma adalah calon mertuanya Rusli, dan Sandra adalah calon istrinya. “Iqbal, saya ada perlu sama kamu. Mari ikut saya.”
Pak Bisma mengajakku ke sebuah tempat. Ia membawaku ke atas gedung, lebih tepatnya ke sebuah daerah terbuka. Di sana banyak seperangkat kursi dan meja yang dinaungi payung raksasa. Tampaknya area ini adalah area khusus bagi para pengunjung yang menikmati sensasi Cafe di outdoor.
Kami berhenti di sudut area, menghadap gedung-gedung bertingkat yang menjadi tetangga Café ini. Pak Bisma mulai bicara, “Iqbal, saya ingin membantu kamu dalam urusan pekerjaan. Kamu akan saya pekerjakan di Café ini.”
Kalimat Pak Bisma barusan membuat tubuhku sedikit merinding. Aku tak tahu harus berkata apa-apa, saat itu aku hanya berkutat memandang tatapan tulus Pak Bisma, bahkan untuk berkutik saja rasanya sangat berdosa. “Pak, ini teh serius, kitu?” Aku meyakinkannya dengan nada sengau.
“Iqbal, saya menghargai kesungguhan kamu mencari lapangan kerja di Jakarta. Untuk sementara, kamu saya pekerjakan sebagai office boy dan mendapat giliran jam malam, karena Cafe ini sangat ramai pada malam hari. Kamu gak keberatan, kan?”
“Alhamdulillah… saya teh bersyukur pisan, Bapak… Hatur nuhun…” Aku meraih tangan Pak Bisma yang agak keriput, lantas kucium berkali-kali.
Malam kembali bergulir. Aku menyiapkan diri menyambut hari pertama bekerja. Kupasang badan ini di depan cermin. Hmmm… setelah kuperhatikan skala wajahku dengan seksama, ternyata sebelas dua belas dengan personel boyband cilik “Iqbal CJR”, namanya aja sama, meski usia tak sepadan, paras wajahku ini masih dibilang kekanakan oleh segelintir orang di kampung.
Semua sudah siap. Let’s go! Kami berangkat dengan mobil Honda City hitam, milik Rusli dengan plat nomor B 1990 RSL. Hmm… aku memang gemar memerhatikan plat mobil orang lain. Peralahan-lahan kami meninggalkan kediamannya yang berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Kurang dari satu jam, kami tiba di Café de Paris. Dengan kobaran semangat, aku langsung meraih kain pel dan ember, mulai bekerja.
Hampir tengah malam. Pekerjaanku hampir beres, sepertiga bagian dari bangunan Cafe ini telah aku pel. Sebaiknya aku istirahat terlebih dahulu agar energi bisa kembali terkumpul. Saatnya meneguk segelas bir dengan kadar alkohol nihil. Cukup kenyang bagiku setelah ditambah dengan remah-remah roti yang tersisa di dapur. Masih bisa dimakan, selagi roti bekas pizza ini tak masuk ke tong sampah.
Aku kembali mengepel. Kuperas kain pel basah ini, lalu kubalur di lantai. Dari kejauhan aku mendengar ketukan selop yang sangat keras, kayaknya orang ini berjalan tergesa-gesa, namun aku tak melihatnya, aku terlalu fokus dengan kerjaan ini.
SREEET…! Tiba-tiba tubuhku tertiban seorang perempuan. Sandra!
Ia terpeleset dan jatuh tepat menibaniku, dengan refleks aku menahannya dengan sebuah dekapan. Jantungku berdebar-debar, nafasku seakan tercekat, kami saling memandang cukup dalam. Aku tak paham arti semua ini, tiba-tiba saja aku kejatuhan bidadari secantik Sandra. Aku memandangnya jauh lebih dalam, seolah tak mau melepas begitu saja moment yang sangat mahal ini.
Sorot matanya, bibirnya, pipinya, semua menyatu dalam detak jantungku. Aku bisa merasakan guncangan asmara yang menjemu hasrat ini. Cukup lama untuk kami saling beradu tatapan.
“Ih, lepasin gue! Lo apa-apaan, sih?” Sandra sudah sadar rupanya. Ia buru-buru melepas dekapanku. Hfff… sayang sekali.
“Maaf atuh, Neng.” Kataku polos.
“Rrrrggh….” Geramnya. Karena emosinya terlalu meledak, kantong belanjaan yang sedang dibawanya berjatuhan. Aku cepat-cepat mengambilnya sebelum ia mengambil duluan dan berharap dia bisa menambal rasa kesalnya.
Namun waktu berkata lain. Tangan kami terjun mengambil barang itu bersamaan, sehingga tanganku dan tangannya menyatu dengan hangat. Kami kembali berpandangan.
“Maaf.” Aku melepas tangannya, aku takut kalau ia semakin emosi padaku. Sandra tak berkata apa-apa, ia pergi meninggalkanku dengan sisa wajah cemberut.
Malam berganti. Aku masih giat bekerja di Cafe yang 24 jam non stop buka setiap hari ini. Noda-noda pada lantai berdatangan silih berganti, meski telah puluhan kali aku seka dengan kain pel lembap. Pengunjung Café semakin ramai memadati setiap meja. Kehidupan malam di sebuah Café kembali menyala. Musik Jazz kian tajam menggugah telinga para penikmatnya. Aku tak peduli. Bagiku, lantai-lantai kotor ini lebih penting.
Rusli dan Sandra kembali ke Café ini. Mereka tampak kelelahan, barang-barang yang mereka bawa cukup membuktikan bahwa mereka habis belanja. Saat detik-detik perpisahan, Rusli mengulurkan tangannya ke Sandra tanpa bicara sepatah kata pun. Nampaknya Sandra sudah hafal dengan gelagat Rusli. Ia merogoh dompetnya dan memberikan beberapa lembar uang bernilai seratus ribu rupiah kepada Rusli. Lepas itu, Rusli mengecup keningnya dan berpisah pulang.
Sebelum pulang, Rusli melambaikan tangan ke arahku dan berseru, “Bal, saya duluan ya! Nanti kamu naik taksi aja, ongkosnya biar saya yang ganti!” Baiklah, aku bisa memahami kondisi, mungkin Rusli sudah kelelahan.
Namun usai Rusli pulang, aku melihat Sandra kebingungan memandang banyaknya kantong-kantong belanjaan di depan matanya. Aku segera ambil tindakan.
“Saya bantu atuh, ya?” Tanpa ada izin, tanganku main sambar barang-barangnya.
Sandra tak bisa menolak, ia terlihat sangat lunglai. “Bawa ke atas!” Perintahnya datar. Saat kami berjalan, suasana kaku, kami saling beradu pandang, namun tawar rasanya. Tapi tak ada salahnya kalau aku membunuh kebekuan ini dengan obrolan kecil. “Mmm… Neng, memangna Neng Sandra mau menikah sama Rusli teh kapan, kitu?”
“Minggu depan.” Jawabnya singkat, namun cukup membuatku merasa kehilangan. Dalam minggu ini aku akan kehilangan Sandra, karena sebentar lagi ia akan menjadi milik orang lain.
“Oooh… secepat ini ya, Neng?” Kataku memelas. “Kalau barang-barang ieu teh untuk apa dan kunaon meni loba kieu, Neng? Lagipula ini teh mahal-mahal pisan.” Lanjutku sambil mengintip sedikit ke dalam kantong-kantong belanjaannya. Ia tak menjawab. Nampaknya Sandra menaruh kebencian padaku, mungkin gara-gara baju mahalnya kena noda minuman yang tak sengaja tersenggol olehku.
Tak terasa, kami tiba di beranda atas Café, barang-barang ditaruh di lantai. Udara begitu dingin menusuk tulang, angin yang berhembus malam ini kurang bersahaja. Sandra memeras sekujur tangannya. Aku langsung mengambil jaketku yang digantung di balik pintu dapur, lalu kubungkus Sandra dengan jaketku tanpa ragu-ragu. Sandra menoleh padaku, aku membalas senyum. “Pake, Neng. Lamun tiis kieu mah harus make jaket atuh, nanti masuk angin.”
Sandra tak membalas sepatah kata pun. Ia mulai menatap wajahku, sedikit lebih dalam. “Iqbal, sekarang lu masuk ke dalam. Gua mau sendiri, gua kecapekan! Udah masuk sana!” Sandra malah mengusirku. Aku sengaja tak menagih jaketku, agar aku bisa mendapat kesempatan lain bertemu dengannya, jaket itu bisa menjadi jembatan penghubung pertemuan kami. Sebelum aku masuk ke bibir pintu, aku mengintip Sandra sejenak.
Apa yang aku lihat ini bukan rekayasa! Sandra menciumi jaketku dengan kecupan mesra, seolah-olah jaket itu adalah aku. Senyuman demi senyuman menambah kekagumanku padanya. Aku tak menyangka sebelumnya, ternyata ia memiliki rasa untukku. Lagi-lagi ia bergumam seperti ini, “Bal, sampai kapan pun aku gak bakal ngelupain kamu. Kamu beda dari orang kebanyakan. Cintamu tulus, meski aku tahu, kamu bukan orang yang berada. Tapi kamu bukan lelaki matre. Muka kamu juga lucu kok, kayak anak kecil.”
Dan kalimat terakhirnya membuat aku terbenam dalam buaian asmara, “Aku mencintaimu, Bal…” Tubuhku melemas, seakan dihantam serdadu cinta yang menyerangku. Malam ini menjadi semakin berarti.
Lambat laun Sandra menyadari keberadaanku. Sorot matanya berubah total menjadi nanar, alisnya berkerut, jaketku mulai dilepaskan dan dilemparkan padaku. Aku sama sekali tidak kecewa, karena aku yakin kalau cinta tak bisa dibohongi. Ia cuma bersandiwara, dan sandiwara yang ia lakukan semata-mata karena pelampiasan rasa malunya saja, aku bisa melihat dari wajahnya.
“Masuuuuk!!!” Sandra meneriakiku. Kuturuti apa kemauannya. Dan apapun yang ia lakukan demi pelampiasan malu, aku bisa terima. Karena itu semua hanya permainan.
Bersambung…

love and letters

Sehabis pulang sekolah biasanya aku mampir ke sebuah warung di dekat sekolahku. Warung tersebut tak terlalu besar, tapi menurutku sangat nyaman. Biasanya aku di sana bersama Edgar, sahabatku sejak di sekolah dasar dan Lusi, sahabatku yang kukenal sejak masuk SMA ini.
Edgar adalah tipe orang yang mudah bergaul. Sejak pertama aku mengenalkannya dengan Lusi, ia dan Lusi bisa dengan mudahnya akrab seperti sudah lama kenal. Tentu saja hal itu bertolak belakang denganku yang bisa dibilang sulit untuk beradaptasi.
“Apa? Kamu mendapat surat misterius lagi?” tanya Edgar kepadaku dengan nada yang terkejut.
Aku hanya menganggukkan kepalaku dan kembali meminum jus yang telah ku pesan. Memang, beberapa minggu ini aku mendapat surat misterius serta setangkai bunga mawar orens yang kutemukan di depan pintu rumah.
“Kali ini, isi suratnya apa?” Lusi nampak penasaran dengan surat misterius itu.
“Ya biasa deh. Inti kata-katanya gak terlalu berbeda dengan surat-surat sebelumnya. Aku heran, kapan orang itu meletakkan surat tersebut di depan pintu rumahku.”
“Boleh ku baca?” Lusi kemudian mengambil surat yang sedang berada di tanganku dan kemudian segera membacanya.
Edgar yang sedang asyik melahap mie instan, kemudian mengalihkan perhatiannya ke arah Lusi yang sedang memegang surat dari pengirim misterius. “Lus, bisa tolong bacakan isi surat si pengaggum rahasia?”
“Oke.. oke. Akan aku bacakan.”
“Love isn’t like a math
sometimes it’s so difficult
but you don’t need any formula
You just need to be brave, believe, and faithful”
“That’s so sweet, Griz!” Lusi kemudian menyerahkan kembali surat itu kepadaku sambil tersenyum sendiri setelah membaca isi surat itu.
“Apanya yang manis? That’s awful, you know?.” Ucapku yang kemudian memasukkan kembali surat itu ke dalam tas.
“Di mana sisi awfulnya sih, Griz? Hari gini udah jarang banget yang kayak begitu. Orang romantis versi kayak gitu pasti udah kayak satu banding seribu. You’re lucky, girl.” Ucap Lusi sambil tersenyum lebar ke arahku.
“Zaman sekarang, kalau suka ya bilang langsung aja sih! Tembak secara langsung diringi lagu, bunga, atau apa kek yang keliatannya sweet. Menurut kacamata lelaki, si pengirim surat orang yang kayak gimana, Gar?” aku menepuk bahu Edgar yang sedang asyik melahap mie instan.
Edgar menghentikan suapannya dan kemudian memandang ke arahku dan Lusi. “Hem.. Gimana ya? Memang sih sudah jarang banget yang ngirim-ngirim surat kayak gini. Mungkin orang ini mau menyatakan sesuatu sama kamu, tapi dia gak berani. Biasa, menyatakan cinta itu gak semudah menamatkan game plants vs zombies.”
“Waduh, kayaknya Edgar lagi jatuh cinta ya?” goda Lusi yang berada di sebelahnya.
Aku tak pernah menyangka Lusi dan Edgar dengan mudah bisa akrab. Keakrabannya terkadang melebihi keakraban Edgar denganku. Padahal mereka baru bertemu sekitar satu setengah tahun yang lalu. Terkadang, aku berpikir bahwa seperti ada sesuatu di antara mereka. Sesuatu yang mereka coba sembunyikan. Sesuatu yang aku belum tahu kepastiannya.
“Tidak, dan bila suatu saat “iya” aku takkan memberitahu dua troublemakers kayak kalian. Aku masih ingat bagaimana kalian hampir menghancurkan rencana saat aku akan menembak Elsa anak Ipa 1. Kalian hampir membuatku frustasi.”
Aku dan Lusi kemudian tertawa mendengar Edgar yang sedang flashback ketika ia ingin menembak Elsa sekitar setahun yang lalu. Memang saat itu, kami berdua ditunjuk sebagai tim sukses untuk membantu rencananya. Namun, bukan membuat berhasil, kami justru hampir menggagalkan rencana yang telah ia susun.
“Ya udah Gar. Emang kamu ditakdirin untuk Jomblo. Elsa kan ternyata udah punya pacar di Malaysia.” Ujarku dengan nada yang sedikit meledek Edgar.
“Ya udah back to topic. Kembali ke si pengaggum rahasiamu itu, Griz.” Ucap Edgar seperti mengalihkan pembicaraan agar tidak membicarakan hal-hal tentang dirinya.
Tiga hari kemudian,
Pengirim surat misterius itu kembali mengirimkan surat yang berisikan tentang curahan perasaannya. Entah apa yang harus ku rasakan. Senang bahwa aku memiliki seorang penggagum yang senantiasa memperhatikanku atau kesal karena merasa hidupku terganggu.
Aku membicarakan hal ini kepada Edgar. Aku harap dia tahu apa maksud sebenarnya dari pengirim surat misterius ini. Namun kali ini aku harus menelan kekecewaan. Nampaknya, Edgar kurang mempedulikan si pengirim surat tersebut. Dari jawaban-jawaban yang ia lontarkan, bisa kusimpulkan dia menganggap santai tentang surat-surat yang sering dikirim oleh pengirim surat.
Akhirnya aku menelpon Lusi untuk sekadar mengadu akan kejenuhanku menghadapi si pengirim surat misterius itu. Kedengarannya aku sedikit berlebihan, namun Lusi dapat memaklumi. Setelah hampir tiga puluh menit aku berbincang dengannya, dia pun menyarankanku agar aku membalas surat dari si pengirim surat.
“Hah! Balas suratnya? Aku sama sekali gak tahu siapa pengirimnya Lus. Lantas bagaimana bisa aku membalas surat tersebut? Tanyaku pada Lusi melalui telepon.
“Dia mengirim surat tersebut melalui apa? Meletakkan begitu saja di depan pintu rumahmu, bukan? Ya sudah, lakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan?”
“Meletakkan surat balasanku di depan pintu rumahnya? Aku kan tidak pernah mengenalnya Lus.”
“Hih Griza!” Terdengar suara Lusi yang nampaknya cukup kesal ketika mendengar jawabanku. “Jika dia berkali-kali meletakkan surat, itu artinya dia akan meletakkan kembali surat untukmu. Ya sudah, letakkan saja surat balasanmu di depan pintu rumahmu. Jadi, saat dia meletakkan surat yang baru, dia akan menemukan suratmu.”
Ide yang terdengar cukup bagus. Apabila pengirim surat misterius itu meletakkan surat yang baru, tentu dia akan menemukan surat balasan dariku. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil secarik kertas dan juga pulpen yang berada di atas meja belajarku, lalu menuliskan surat balasan yang kuharap akan ditemukan oleh pengirim misterius itu. Kemudian kuletakkan di tempat pengirim tersebut meletakkan suratnya.
Dear Mr/Ms. No Name
Terimakasih telah meluangkan waktumu untuk menuliskan beberapa surat untukku. Terimakasih juga untuk beberapa bunga yang telah kau kirimkan. Namun, tidakkah perbuatan itu meletihkanmu? Jujur saja, aku jenuh. Aku jenuh harus menemukan suratmu, membukanya dan sesekali membacanya. Surat dari orang yang tak pernah kuketahui siapa pengirimnya. Bukankah itu sungguh membuang waktu?
From : Griza Cantika
Sudah beberapa hari sejak kuletakkan surat balasanku, aku tidak pernah mendapat surat dari si pengirim misterius. Aku rasa ide Lusi untuk kali ini berhasil. Namun, rasanya sedikit aneh. Jika biasanya hampir setiap hari kutemukan surat di depan pintu rumahku, untuk beberapa hari ini aku tak menemakannya.
Aku tak percaya. Ini seperti telah menjadi kebiasaan dan rutinitasku. Menemukan surat dan kemudian membacanya, terkadang memaki si pengirim yang tak pernah kuketahui identitasnya. Hal bodoh seperti itu bisa kurindukan.
Sudah tepat seminggu aku membalas surat dan seperti yang ku bilang sebelumnya, si pengirim misterius sepertinya enggan membalas suratku. Lusi dan Edgar nampaknya lega karena setelah beberapa pekan aku selalu membahas tentang surat misterius tersebut, kini sudah tidak.
Sabtu selalu memiliki pagi yang indah menurutku. Entah cuaca panas atau hujan, di sabtu pagi aku bisa melanjutkan tidurku kembali. Namun kali ini aku sudah berjanji menemani Ibu untuk jogging mengelilingi komplek yang masih sepi. Setelah membuka pintu, aku melirik ke suatu sudut tempat di mana biasanya surat misterisu diletakkan. Masih seperti kemarin, tak ada di sudut itu. Namun kualihkan kembali pandanganku. Sebuah kertas bewarna cokelat nampaknya mengundang perhatianku.
Aku segera menghampiri dan mengambil kertas yang bewarna cokelat tersebut dan kemudian membaca kata-kata yang tertulis di dalamnya.
“Pertama, kuucapkan “sama-sama” atas ucapan terimakasihmu untuk bunga yang telah aku berikan. Kedua, Maaf telah mengganggu harimu. Terkadang ada rasa yang sulit diungkapkan namun rasa tersebut selalu meluap dan rasanya ingin terus meluap hingga tak ada lagi cara yang bisa kulakukan. Pasti kau mengerti apa yang aku maksud. Jika kau letih dengan caraku ini, bagaimana jika kita bertemu? Sore ini aku tunggu kamu di taman. Btw, aku suka panggilan darimu. “Mr. No Name”. Terdengar bagus, bukan?”
-Mr. “No Name”
Aku masih berdiri di depan pintu hingga akhirrnya suara sapaan Ibu membuatku kembali sadar dari lamunanku. Aku segera memasukkan kertas cokelat tersebut ke dalam saku celana trainningku.
Sepanjang jalan komplek, aku masih sibuk dengan lamunanku tentang pengirim misterius itu. Dia ingin menemuiku. Bukankan dari awal memang aku yang menantangnya agar ia menampakkan jati dirinya? tapi kenapa saat dia menerima tawaranku, justru aku yang takut. Aku rasa, aku harus memberitahu Lusi dan Edgar agar mereka bisa menemaniku. Tidak. Aku rasa Lusi saja cukup. Mungkin jika aku mengajak Edgar, dia hanya akan menjadi pengacau.
Sepulang jogging, aku meminta Lusi untuk mengunjungi rumahku. Namun, kali ini dia menolak tawaranku padahal aku sudah coba untuk membujuknya dengan kue brownies buatan ibuku. Sepertinya Lusi saat ini sedang sibuk di rumahnya.
“Apa? Jadi si pengirim surat rahasia itu mengajakmu untuk bertemu sore ini?” nampaknya Lusi cukup kaget ketika mendengar aku membacakan surat balasan pria tersebut.
Aku hanya mengangguk saat ia bertanya. “Kamu mau temenin aku? Aku gak tahu, tapi rasanya aku kok takut ya? Bagaimana jika aku batalkan saja?”
“Duh, jangan dibatalkan gitu saja dong. Dia saja sudah mau menunjukkan jati dirinya. Ini kesempatanmu. Kalo orangnya menyeramkan, kamu kabur saja.”
Walau Lusi tak bisa melihatku, sekali lagi aku menganggukkan kepalaku. Ada rasa takut bercampur dengan rasa penasaran yang berkecamuk di hatiku. “Ya sudah aku akan bertemu dengannya. Tapi kamu temenin aku ya?”
“Aku sih mau banget. Apalagi aku juga penasaran sama pria itu. Tapi hari ini sepupuku berulang tahun, jadi siang nanti aku harus pergi ke Bogor. Kenapa kamu gak coba hubungi Edgar? Siapa tahu aja dia bisa.”
“Edgar? Aku sih juga berpikir akan mengajaknya. Tapi kenapa aku gak yakin ya Lus? Aku takut nanti dia akan membuat kekacauan.”
Terdengar suara Lusi yang berdeham dan sepertinya sedang menimbang-nimbang apa yang ia akan katakan. “Ya, kamu berdoa aja semoga kali ini Edgar tidak membuat kekacauan. Aku yakin dia orang yang flexible. Kamu sudah mengenal dia lebih lama daripada aku, pasti kamu tahu Edgar yang sebenarnya.”
“Oke jika kamu berpikir seperti itu. aku akan menelponnya. Bye Lusi.” Aku pun mengakhiri panggilan dan menutup telepon kemudian segera menekan nomor Edgar. Aku merasa akhir-akhir ini Lusi seperti sudah sangat mengenal Edgar dibandingkanku. Padahal, akulah yang lebih lama mengenal Edgar ketimbang Lusi.
Beberapa detik setelah nada sambug berbunyi, kemudian terdengar suara di ujung telepon. “Halo”.
“Gar, I wanna ask you something.”
“Iya ada apa Griz?”
Aku mengambil napas sejenak untuk bersiap-siap mengatakan sesuatu yang kuharap Edgar tidak menganggapnya sebagai lelucon. “Bisa temenin aku nanti sore?”.
Edgar terdiam sejenak. Aku harap ia bisa menemaniku. Setelah Lusi, ia harapanku satu-satunya untuk menemaniku sore ini.
“Emmm, gimana ya Griz? Sore ini, Mamaku memintaku untuk mengantarnya ke acara pembukaan salon temannya.”
“What? Salon? Acara itu pasti bakal nge-betein Gar. Mending kamu ikut aku aja.” Pintaku yang coba membujuk Edgar agar bersedia menemaniku.
“Emang mau ngapain sih? kayaknya acara penting ya?”
“Emmm… Gak terlalu penting sih. tapi, please temenin aku dong Gar! Setelah kamu nganter mamamu, kamu bisa menemaniku, kan?” bujukku yang sedikit memaksa kepada Edgar.
“Yah gimana ya Griz? Mamaku minta aku buat stay di sana. Takut-takut ada sesuatu yang perlu aku bantu. Aku juga melakukan ini demi uang jajan yang dijanjikan mama akan dinaikkan.”
“Huh, dasar cowok matrealistis!”
Dari ujung telepon hanya terdengar suara tertawa yang sepertinya tak mempedulikanku yang sedang berusaha membujuk dengan sedikit memaksa. “Hahaha. Masa wanita aja sih yang boleh matrealistis.”
Setelah mengetahui kesimpulan Edgar yang tetap tak bisa menemaniku, akhirnya aku menutup telepon dan berpikir untuk tetap datang atau justru membatalkan pertemuan nanti.
Di Taman, 17:00 sore
Setelah mempertimbangkan keputusanku selama setengah hari, akhirnya aku memutuskan untuk ke taman, menemui orang yang sering mengirimiku surat. Datang seorang diri untuk menemui seseorang yang tak ku kenal. Aku tak tahu ini keputusan yang benar atau keliru.
Sesampainya di taman yang cukup ramai pada sore itu, aku mengalihkan pandanganku ke sudut-sudut taman. Aku rasa aku telah membuat keputusan yang keliru kali ini. Aku bahkan tidak mengetahui ciri-ciri si pengirim surat. Bagaimana bisa aku mengetahui bahwa dia datang dan berada di taman.
Aku rasa aku harus kembali ke rumah. Ini tindakan bodoh. Sebelum pulang, aku duduk di bangku yang berada di salah satu sudut taman yang sepi dibandingkan sudut taman yang lain. What is that? Aku melihat sebuah boneka Teddy Bear dengan sebuah surat di ujung bangku yang kududuki. Aku rasa ini milik salah satu pengunjung taman.
Sebelum aku ingin menyerahkan ke petugas taman, dengan cermat aku perhatikan boneka dan surat yang tersangkut di pita leher boneka tersebut. “To: Griza Cantika”. Setelah membaca tulisan tersebut, aku mengernyitkan alis. Kemudian aku membuka surat yang aku rasa diperuntukkan untukku.
To : Griza Cantika
Would you mind bringing Mr. Teddy to the fountain?
Setelah membaca isi surat yang terlihat seperti petunjuk, tanpa pikir panjang aku segera menuju ke air mancur yang ada di taman. Kali ini aku rasa aku telah benar-benar dibutakan oleh rasa penasaranku. Kakiku melangkah begitu saja walau sepertinya belum aku perintahkan untuk melangkah.
Dengan langkah kaki yang kurasa lebih cepat dari biasanya, aku pun sampai di sebuah air mancur di taman yang sudah dikelilingi balon-balon dengan warna pastel. Aku memalingkan pandangan ke sekelilingku. Nampaknya tak ada seseorang yang sedang menungguku.
Aku menemukan secarik kertas yang diikat dengan setangkai bunga mawar. Aku rasa itu petunjuk selanjutnya. Kemudian, aku membuka dan membaca isi kertas tersebut yang ternyata bertuliskan “Please, press the chest of Mr. Teddy!”
Setelah membaca kata perintah itu, tanpa pikir panjang aku segera menekan bagian dari dada boneka teddy bear itu dan terdengar rekaman suara seorang lelaki yang menyanyi diiringi dengan gitar.
“Have i told you lately that i love you?
Have i told you there’s no one else above you?
Fill my heart with gladness
Take away all my sadness
Ease my trouble that’s what you do…”
Suara itu. Suara lelaki yang menyayikan lagu have i told you lately dari Rob Stewart itu sudah tidak asing lagi di telingaku. Mungkinkah dia orangnya? Oh Tuhan, ini pasti keliru.
Di sela-sela kebingunganku, aku menangkap ada sebuah bayangan dari belakang pohon. Bayangan yang kian mendekat diiringi langkah kaki yang terdengar semakin dekat seakan membuat jantungku ikut berdegup sangat cepat. Apa itu si pengirim surat misterius? Apa dia adalah… entahlah, aku hanya bisa menerka-nerka sedangkan kakiku semakin kaku saat bayangan itu terus maju menghampiriku.
Sosok yang semakin mendekat kini berdiri di hadapanku. Matanya menatap ke arahku yang berdiri mematung dengan degup jantung yang kencang. Edgar! Oh My God! Is He Edgar?
“Kamu tahu bukan, bahwa aku gak terlalu bisa nyanyi? Jadi sedikit deh yang aku rekam.” Ucapnya sambil tersenyum simpul. Edgar seakan menjawab salah satu pertanyaan yang belum aku lontarkan kepadanya.
“Maaf, kalau selama ini aku udah buang-buang waktu kamu. But, aku gak pernah tahu cara untuk ngungkapinnya. Aku selalu dihinggapi rasa takut yang berlebihan. Rasa takut yang mengalahkan segala rasa yang selama ini aku simpan. Terserah kamu mau nganggep aku pengecut, gak gentleman, atau apalah istilahnya.”
Belum sempat aku membuka mulut, Edgar kemudian melanjutkan kalimatnya yang sepertinya terpotong karena napasnya yang aku rasa sedikit tak beraturan. Dingin. Entah mengapa sore yang hangat ini terasa begitu dingin bagiku.
“Tapi semenjak Lusi tahu semuanya, dia justru marahin aku. Dia jengkel dengan semua caraku. Cara yang aku kira bisa memudahkan jalanku, namun ternyata membuatmu geram.”
“Aku gak ngerti sama apa yang kamu maksud Gar! Kamu dan Lusi? Apa yang sudah Lusi tahu tentang kamu, tapi aku gak tahu? Apa Lusi tahu tentang kamu lebih dari aku?” aku berbicara dengan nada yang sedikit membentak. Seolah kalimatnya tentang Lusi membuat darahku naik. Wanita itu, Sahabatku lebih tahu tentang Edgar dibanding aku.
“Iya. Lusi tahu sesuatu hal tentang aku yang gak kamu tahu.” Edgar menjawab singkat.
Lantas, aku menengadah menatap wajah lelaki yang lebih tinggi dariku itu. menatap matanya dengan wajah heranku yang penuh dengan beragam pertanyaan yang ingin kulontarkan. “Apa?” tanyaku singkat.
“Lusi tahu kalau aku..” Edgar berusaha mengatur napasnya yang sedikit tertahan lalu berusaha membuka kembali mulutnya yang sempat tertutup. “Kalau aku… cinta kamu.” Edgar tertawa kecil sambil menunduk, memalingkan tatapannya dari mataku. “Ya, aku cinta kamu. Ini gila bukan? Sudah hampir sembilan tahun kita bersahabat, dan aku justru menjatuhkan hati padamu.”
“Iya ini Gila!!!”
Lalu, ia menggengam sebelah tanganku yang tidak memegang apapun sambil kemudian ia berkata “Aku cinta kamu. Bukan seperti cinta seorang sahabat kepada sahabatnya, bukan seperti cinta seorang kakak kepada adik perempuannya, atau seorang teman kecil kepada teman yang selalu ada untuknya. Tapi seperti cinta seorang lelaki kepada seorang perempuan yang ia cintai. Dan, maaf aku gak pernah tahu cara yang tepat untuk ngungkapin ini semua.”
“Griz, Would you like to be mine?”
“Gar! You know, this is so crazy!!! But, you have to know that… that i wanna be yours.” Aku tersenyum sambil menatap mata lelaki yang sedari tadi lebih dulu menatapku dengan tatapan yang dalam.
Kemudian Edgar tersenyum. Lalu ia memelukku dengan erat. Sangat erat. Dan aku tenggelam dalam pelukannya yang erat itu. ini bukan pelukan pertama yang terjadi di antara kami. Namun ini pelukan pertama yang menurutku sungguh hangat dan sangat nyaman. Sebuah pelukan erat namun membuat napasku menjadi lega. Selega ketika kau terbang di antara burung-burung dan awan-awan di langit yang berlomba satu sama lain.
“Caramu konyol Gar! Norak! Tapi aku suka.” Bisikku kepada Edgar yang masih memelukku dengan erat.
Kemudian Edgar melepaskan pelukan yang mampu membuatku merasa sangat nyaman itu. “Kita harus segera menghubungi Lusi. Dia sangat berjasa untuk ini. Dia yang mengajariku cara untuk bisa mengalahkan rasa takutku untuk mengungkapkan semua ini. Aku juga sudah berjanji untuk meneraktirnya jika ini semua berhasil.”
Aku hanya tersenyum sambil menggengam tangan Edgar, dan tanganku yang lainnya memegang teddy bear dan bunga. “Iya. Aku setuju.”
Edgar kembali memelukku dengan pelukan yang nyaman itu. Kemudian aku mendengar bisikkan lembut keluar dari mulutnya. “I love you, Griz. And i don’t wanna lose you.”
Aku yang masih tenggelam di dalam pelukannya hanya mampu tersenyum dan berkata “I love you, too. And you’ll never lose me.”
Senja seakan menjadi saksi atas segala yang sudah terjadi di antara kami. Aku dan Edgar. Aku gak pernah nyangka Edgar akan memiliki rasa yang sama seperti yang kurasa. Rasa yang sebelumnya kuanggap konyol ketika ia hadir, namun rasa yang tak bisa kami kontrol. Mengalir begitu saja. Mengalir lembut bagai rintik hujan yang dengan pasrahnya jatuh ke tanah dan mengalir ke hulu sungai hingga akhirnya bermuara di laut.